What are Application Containers
2 min read
Application container adalah jenis container yang relatif baru. Ini merupakan solusi yang berfokus pada satu aplikasi, layanan, atau bahkan microservice, dan biasanya hanya menjalankan satu proses di dalamnya. Karena sifatnya ini, application container mendorong penggunaan infrastruktur yang immutable (tidak bisa diubah) dan ephemeral (sementara atau berumur pendek). Jika sebuah aplikasi atau layanan perlu diperbarui, maka kontainer baru akan dibuat dari image yang sudah disesuaikan, dan digunakan untuk menggantikan kontainer yang lama.
Pada awal kemunculannya, kompleksitas dalam penerapan application container—serta kurangnya isolasi yang baik dan ketidakcocokan dengan beberapa teknologi (seperti Java atau database runtime)—membuat adopsinya lambat. Developer harus melakukan banyak penyesuaian agar teknologi dan fitur tambahan bisa berjalan dengan baik di dalam kontainer aplikasi.
Application container ini bersifat stateless, artinya tidak bisa menyimpan data atau status secara bawaan. Penyimpanan data dilakukan melalui sistem penyimpanan eksternal (seperti volume atau database terpisah). Namun, menurut para developer kontainer stateless murni, membawa status ke dalam proses deployment dianggap sebagai praktik arsitektur yang sudah usang. Mereka berpendapat bahwa cara terbaik dalam menggunakan kontainer adalah untuk menjalankan operasi yang tidak memerlukan penyimpanan status permanen.
Saat ini, sudah banyak alat bantu tambahan (tools) yang dibuat untuk mempermudah penggunaan layanan berbasis kontainer aplikasi. Dengan alat-alat ini, developer dapat memanfaatkan keunggulan dari kontainer aplikasi tanpa harus berurusan dengan manajemen yang rumit.
Implementasi Application Container #
Beberapa implementasi application container yang populer saat ini antara lain : Docker, CRI-O, containerd, dan lainnya.
Saat ini, platform ini menggunakan Docker sebagai teknologi utama karena merupakan yang paling banyak digunakan. Platform ini juga menyediakan berbagai kemudahan seperti:
- Otomatisasi penuh untuk proses deployment
- Provisioning server yang cepat
- Dukungan penyimpanan data yang stateful (misalnya: sesi, log, konfigurasi, dan lainnya)
Semua ini memudahkan penggunaan kontainer aplikasi secara efisien dan stabil untuk berbagai kebutuhan.

Namun, beberapa aplikasi dan teknologi masih dapat mengalami kendala saat dimigrasikan ke kontainer aplikasi. Hal ini disebabkan oleh:
- Kurangnya isolasi yang memadai
- Sifat stateless (tidak menyimpan data)
- Dan persyaratan untuk hanya menjalankan satu proses di dalam kontainer
Masalah ini terutama berlaku untuk alat orkestrasi kontainer aplikasi yang kompleks, seperti Kubernetes.
Jika kamu mengalami kesulitan dalam proses migrasi ke kontainer aplikasi, maka kontainer sistem dapat menjadi alternatif yang lebih sesuai untuk proses kontainerisasi.
Powered by BetterDocs
