Clone Environment
3 min read
Cepat atau lambat, setiap developer pasti akan menghadapi kebutuhan untuk membuat cabang (branch) dari aplikasi yang sedang dikembangkan—misalnya, untuk mencoba fitur baru sebelum benar-benar diterapkan ke versi produksi. Untuk kasus seperti ini, platform menyediakan opsi khusus yaitu cloning environment, yang memungkinkan Kamu membuat salinan lengkap dari proyek yang sudah ada hanya dalam beberapa klik.
Selain itu, untuk proyek yang lebih kompleks dan melibatkan tim pengembang secara keseluruhan, disarankan untuk membuat beberapa salinan aplikasi yang masing-masing punya tujuan khusus. Lifecycle aplikasi yang umum biasanya terdiri dari beberapa tahap berikut:
- development – tempat developer membuat dan mengubah fitur
- testing – digunakan tim QA untuk mencari dan menganalisis kemungkinan masalah
- production – versi aplikasi paling baru yang digunakan oleh pengguna akhir
💡 TIP
Perhatikan beberapa hal khusus terkait proses cloning environment di platform ini:
- Berdasarkan mode scaling tiap layer, container hasil cloning bisa saja dibuat ulang dari base image (untuk mode stateless) atau langsung disalin dari master container (untuk mode stateful).
- Mungkin akan terjadi short-term freeze pada source container karena adanya proses migrasi memori ke node hasil cloning. Proses ini mirip dengan live migration.
- Jika kamu melakukan cloning pada environment berbasis Windows, container akan dihentikan sementara, jadi harap siapkan diri untuk kemungkinan terjadi downtime singkat.
- Akan terjadi downtime singkat saat melakukan cloning environment untuk database Galera akibat interaksi antara cluster asli dan hasil klonnya untuk memastikan konsistensi data.
How to Clone Environment #
Untuk membuat salinan (clone) dari sebuah environment, ikuti langkah-langkah berikut:
1. Klik tombol Clone Environment yang ada di samping environment kamu, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah:

2. Di jendela pop-up yang muncul, beri nama untuk salinan environment Kamu (atau biarkan nama default yang disediakan), lalu klik Clone.

3. Dalam beberapa menit, environment tersebut akan berhasil diduplikasi dan siap digunakan.
💡 TIP
Dalam beberapa kasus tertentu, Kamu perlu melakukan penyesuaian tambahan agar salinan environment bisa berfungsi dengan baik:
- Alamat IP dan hostname node hasil clone akan berbeda dari environment aslinya. Kalau IP atau hostname ini tertulis secara “hardcoded” di file konfigurasi, kamu perlu menggantinya secara manual.
- Environment yang berada dalam mode kolaborasi hanya bisa diklon oleh pemilik utamanya. Salinan environment yang dibuat tidak akan otomatis bisa diakses oleh kolaborator, kecuali dikonfigurasi lagi secara manual.

Sekarang, Kamu bisa mengatur ulang environment hasil cloning tersebut, mendeploy versi aplikasi yang baru, serta menerapkan perubahan pada topologi atau konfigurasi aplikasi — semua itu tidak akan memengaruhi environment aslinya.
Common Use Cases #
Dengan begitu, Kamu bisa memanfaatkan environment hasil cloning untuk berbagai keperluan berikut:
- Mengganti nama environment (termasuk domain internal-nya)
- Menukar domain untuk mengarahkan pengguna ke versi proyek yang sudah diperbarui
- Menerapkan blue-green deployment agar bisa melakukan pembaruan tanpa menyebabkan downtime

- Melakukan A/B testing untuk membandingkan dua versi aplikasi dan melihat mana yang lebih disukai pengguna

- Menyediakan perlindungan failover tingkat lanjut agar aplikasi tetap berjalan meskipun terjadi kegagalan pada salah satu environment

- Menyimpan data dari beberapa environment di satu Dedicated Storage Container, agar penggunaan disk lebih efisien
- Mengkloning environment sebagai semacam “snapshot” dari seluruh pengaturan sistem
- Mengatur replikasi atau sinkronisasi data dari environment produksi ke salinannya (misalnya untuk kebutuhan testing atau staging), agar data tetap mutakhir
Berbagai skenario ini bisa membantu kamu memaksimalkan penggunaan environment utama maupun salinannya.
Powered by BetterDocs
